KLAUSANEWS – Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Kota Bontang terus dilakukan Pemerintah Kota bersama semua elemen masyarakat.
Diungkapkan Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting (P2S), Ketua Pokjanal, sekaligus Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang Aji Erlynawati salah satu organisasi yang wajib turut berperan aktif dalam pencegahan stunting adalah Tim Penggerak (TP) PKK.
Menurutnya ada 3 hal yang harus ditekankan dalam penanganan stunting yaitu pertama, pentingnya memperhatikan asupan makanan bergizi bagi ibu Hamil, Bayi dan Balita terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kedua, pola asuh, dimana pola asuh orang tua sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama pertumbuhan dan perkembangan otak, dan yang ketiga adalah Kesehatan Lingkungan atau lebih kita kenal dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“ Asupan makanan bergizi bagi ibu hamil itu sangat perlu diperhatikan, selain itu untuk kesehatan lingkungan juga harus lebih diperhatikan lagi, nantinya peran Tim Penggerak PKK Kota Bontang akan memberikan edukasi atau seminar yang berkaitan dengan 3 hal yang harus ditekankan tadi,“ ungkapnya saat membuka acara sosialisasi penanggulangan stunting dan sensitif Tim Percepatan Penanganan Stunting Kota Bontang. Selasa (21/06/2022) di Ballroom Hotel Bintang Sintuk.
Senada, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bontang, Hapidah Basri mengatakan TP. PKK bersinergi dalam menjadi pelopor utama atau menjadi kader terdepan bagi masyarakat dalam penanganan Percepatan Penurunan Stunting (P2S) Kota Bontang.
“ TP. PKK dilibatkan dan sangat berpengaruh dalam kasus stunting yang ada di Kota Bontang ini, karena nantinya Tim penggerak PKK akan memberikan edukasi ibu rumah tangga, keluarga dan masyarakat secara umum, bagaimana mencegah stunting. Untuk dimudahkan proses pemberian edukasi pencegahan ini, nanti dari Dasa Wisma PKK akan mengumpulkan data kemudian nantinya kegiatan TP PKK diarahkan pada pencegahan stunting anak Kota Bontang, “ ungkapnya.
Selain itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Jamila Suyuti mengatakan agar terhindar dari Stunting, maka pastikan bayi tidak kehilangan periode emasnya (1000 HPK), ia juga mengatakan dalam penanggulangan stunting ada dua intervensi yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Dijelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan otak sangat ditentukan oleh asupan gizi pada masa periode emas yakni dihitung sejak janin berada dalam kandungan selama 9 bulan (270 hari) sampai balita berumur 2 tahun (730 hari), 80% terjadi di masa janin berada dalam kandungan dan 20% pada saat anak itu lahir sampai usia 2 tahun. Inilah mengapa intervensi spesifik 1000 HPK itu penting, namun hanya memberikan kontribusi 20-30%dalam penanggulangan stunting Sedangkan intervensi sensitif melibatkan lintas sektor lain diluar kesehatan diantaranya penyediaan sarana prasarana sehingga terjamin kelangsungan hajat hidup keluarga tersebut, mulai dari pemanfaatan air yang aman, penyediaan dan pemanfaatan jamban yang baik.
“ Intervensi sensitif ini dapat memberikan kontribusi 60-70% dalam penanggulangan stunting, hal ini yang menyebabkan penanggulangan stunting bukan hanya urusan dinas kesehatan namun harus dikeroyok bersama seluruh stakeholder termasuk Tim Penggerak PKK Kota Bontang, “ paparnya.
Diketahui, data dua tahun terakhir, kasus stunting di Kota Bontang, meski belum mencapai target, namun mengalami penurunan yang mulanya 20,93 persen menjadi 19,65 persen.
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga berdampak pada kegagalan pertumbuhan anak, dimana tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya (kerdil).
Reporter : Octa Fadilah
Editor : APL

