KLAUSANEWS, TENGGARONG – Di balik hamparan sawah luas Mangkurawang Darat, Kecamatan Tenggarong, terdapat kisah perjuangan para petani yang terus bertahan meski menghadapi berbagai tantangan. Ketua RT 14 sekaligus pemimpin Kelompok Tani Harapan, Yatemen (60), mengungkapkan bahwa masalah irigasi yang tak kunjung teratasi menjadi penghambat utama bagi produktivitas mereka.
Kelompok Tani Harapan ini terdiri dari lima kelompok dengan total 50 anggota aktif. Dengan luas lahan mencapai 500 hektar, mereka mampu memanen hingga dua kali setahun. Setiap hektarnya menghasilkan lebih dari 200 karung padi, atau sekitar 10 ton.
“Produksi kami cukup baik dalam setahun, tetapi kendala irigasi menjadi hambatan besar,” ujar Yatemen pada 7 November 2024.
Minimnya Dukungan Pemerintah
Sayangnya, upaya petani untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sering kali tak membuahkan hasil.
“Kami sudah berkali-kali mengajukan permohonan bantuan, tapi belum ada tanggapan. Satu-satunya bantuan yang kami terima hanyalah cekdam (pintu air) dari Partai Gerindra,” keluh Yatemen.
Irigasi yang kurang memadai dan masalah cekdam menjadi keluhan utama. Ketika air sangat dibutuhkan, petani kesulitan untuk mengatur alirannya.
“Parit-parit sulit dialiri air, bahkan banyak petani yang gagal menanam karena air tidak mencukupi. Masalah cekdam ini sangat vital, tapi solusinya belum datang,” tambahnya.
Selain irigasi, kualitas bibit padi juga menjadi perhatian. Menurut Yatemen, bibit yang mereka terima kerap tidak seragam, dengan kualitas yang bervariasi.
“Ada yang tumbuh pendek, ada yang tinggi, sehingga hasil panennya pun tidak optimal,” jelasnya.
Swadaya yang Tak Kenal Lelah
Kendati menghadapi berbagai kendala, semangat gotong royong masih menjadi andalan utama para petani. Mereka bahu-membahu membersihkan parit menggunakan peralatan sederhana.
“Kami hanya bisa bergantung pada tenaga sendiri, membersihkan parit dengan alat seadanya,” kata Yatemen.
Namun, gotong royong saja tidak cukup untuk mengatasi tantangan besar ini. Kelompok Tani Harapan berharap pemerintah dapat memberikan bantuan yang lebih nyata dan berkelanjutan.
“Kami butuh dukungan berupa bibit berkualitas, alat pengering, serta fasilitas cekdam yang memadai,” harap Yatemen.
Harapan untuk masa depan
Bagi para petani Mangkurawang Darat, keberhasilan pertanian bukan sekadar soal hasil panen, tetapi juga perjuangan kolektif untuk mengatasi tantangan bersama. Mereka berharap pemerintah dapat lebih peka terhadap kebutuhan desa.
“Kami tidak meminta banyak, cukup sedikit perhatian agar pertanian di desa ini bisa lebih maju. Kalau untuk membawa hasil panen saja sulit, bagaimana kami bisa berkembang?” pungkas Yatemen.
Dengan potensi besar yang dimiliki Mangkurawang Darat, dukungan yang tepat dapat mengubah nasib para petani di daerah ini. Mereka terus berharap bahwa suara mereka suatu saat akan didengar.
Penulis : Mita Mellinda

