Site icon KLAUSAMEDIA

Selada Hidroponik: Inovasi Syahrian Menghidupkan Pertanian Urban

KLAUSANEWS, TENGGARONG – Dari sebuah desa kecil di Muara Muntai, seorang pemuda bernama Syahrian membuktikan bahwa bertani bukan hanya pekerjaan orang tua. Ia mendirikan Kebun Urang Hulu Farm, sebuah usaha selada hidroponik yang kini menjadi pionir di Tenggarong. Dengan luas lahan 15×25 meter di Jalan Gunung Sentul, usaha ini tak hanya menghasilkan sayuran segar, tetapi juga membawa semangat baru bagi pertanian urban.

Syahrian memulai perjalanan bisnisnya di pertengahan 2022. Awalnya, itu hanya eksperimen kecil, namun setelah beberapa waktu, ia menyadari potensi besar dari pertanian hidroponik, terutama untuk sayur selada.

“Awalnya cuma coba-coba, tapi ternyata hidroponik ini sangat cocok untuk daerah perkotaan. Kota itu butuh dorongan, terutama di sektor pertanian, dan kita anak muda bisa jadi motor penggeraknya,” ujar Syahrian.

Nama “Urang Hulu” dipilih sebagai pengingat asal-usulnya. Sebagai anak desa, ia ingin menunjukkan bahwa pemuda dari daerah pedalaman pun mampu membawa inovasi di perkotaan.

“Di Muara Muntai dulu sektor pertanian sangat kuat, tapi seiring waktu peminatnya berkurang. Saya ingin membuktikan kalau anak muda juga bisa sukses di bidang ini,” tambahnya.

Tantangan di Balik Kesuksesan

Tentu saja, perjalanan ini tak selalu mulus. Syahrian mengaku bahwa modal awal dan distribusi hasil panen menjadi tantangan terbesar.

“Orang sering fokus pada keuntungan dari hasil tanam, tapi lupa kalau pemasaran itu kunci. Bagaimana selada bisa sampai ke tangan konsumen adalah tantangan besar,” jelasnya.

Dengan sistem hidroponik berbasis aeroponik, Syahrian memastikan kualitas seladanya tetap terjaga. Sistem ini menggunakan pipa dan talang air, berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan tanah dan polybag. Menariknya, selada yang dihasilkan dengan teknik ini memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan metode konvensional.

Pemasaran dan Tantangan Skalabilitas

Untuk distribusi, Kebun Urang Hulu Farm menyasar pasar lokal dan toko frozen food. Namun, masuk ke supermarket masih menjadi target jangka panjang.

“Untuk memenuhi satu supermarket saja, kami butuh sekitar 2.500 lubang tanam. Saat ini, prioritas kami adalah menjaga ketersediaan bagi pelanggan tetap,” kata Syahrian.

Meski demikian, ia optimis untuk memperluas usahanya. Rencana ke depan termasuk memperbesar lahan dan meningkatkan produksi, sembari tetap menjaga kualitas hasil panen.

Harapan dan Seruan untuk Pemerintah

Sebagai pelaku UMKM, Syahrian berharap ada perhatian lebih dari pemerintah. Ia ingin komunitas petani selada dibentuk untuk mempermudah koordinasi dan akses bantuan.

“Kami butuh dukungan, baik dari Dinas Pertanian maupun penyuluh lapangan. Mayoritas petani selada berkembang mandiri tanpa bantuan. Padahal, dengan tagline swasembada pangan yang digaungkan pemerintah, ini saatnya kita unjuk gigi,” tegasnya.

Kisah Syahrian adalah bukti bahwa anak muda memiliki peran besar dalam menggerakkan sektor pertanian. Dengan semangat inovasi dan keberanian untuk mencoba hal baru, ia menunjukkan bahwa pertanian modern adalah peluang besar, bukan sekadar pekerjaan tradisional.

Penulis : Mita Mellinda