KLAUSAMEDIA — Seiring masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kota Balikpapan bertransformasi menjadi poros mobilitas yang kian padat.
Efek ini terasa nyata pada periode angkutan Lebaran 2026, di mana kehadiran lebih dari 10.000 pekerja di kawasan IKN menjadi variabel utama yang memicu lonjakan trafik di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan.
Berdasarkan proyeksi otoritas bandara, total pergerakan penumpang pada musim mudik tahun ini diperkirakan menembus angka 313.170 orang.
Jumlah ini mencatatkan kenaikan moderat sebesar 2 persen dibandingkan periode Lebaran 2025, di mana terdapat pergeseran profil penumpang yang cukup signifikan.
Migrasi Pekerja IKN
Data menunjukkan bahwa populasi di kawasan IKN saat ini terdiri dari sekitar 7.800 pekerja konstruksi dan 1.170 ASN Otorita IKN, ditambah ribuan pekerja pendukung lainnya.
Menjelang Idulfitri, kelompok ini menjadi segmen pasar yang dominan dalam pergerakan arus keluar (outbound) dari Balikpapan menuju berbagai daerah asal di seluruh Indonesia.
General Manager Angkasa Pura Bandara SAMS Sepinggan, R Iwan Winaya Mahdar, menjelaskan bahwa peningkatan mobilitas ini sudah terlihat dari tren pemesanan tiket jauh hari sebelum puncak mudik.
“Total akan ada 313.170 pemudik yang melewati Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan di musim Lebaran tahun ini. Kenaikan ini sejalan dengan adanya peningkatan mobilitas masyarakat dan pekerja di kawasan inti IKN serta daerah sekitarnya,” ungkap Iwan Winaya di Balikpapan, Senin (16/3/2026).
Manajemen Kapasitas
Berdasarkan tren historis dua tahun terakhir, pergerakan penumpang harian di Sepinggan selama masa angkutan Lebaran diperkirakan stabil di angka 20.000 hingga 22.000 orang per hari.
Kapasitas terminal dan apron kini menjadi fokus utama untuk memastikan tidak terjadi sumbatan pada proses layanan.
Otoritas bandara telah menyiapkan strategi penguatan yang mencakup optimalisasi slot time pergerakan pesawat dan pengendalian antrean di area check-in.
Mengingat Balikpapan sering kali dihadapkan pada fluktuasi cuaca yang tidak menentu, koordinasi dengan BMKG ditingkatkan untuk memitigasi potensi gangguan operasional akibat cuaca ekstrem.
“Kami mengantisipasi lonjakan ini dengan penguatan keamanan dan layanan. Koordinasi lintas sektor adalah kunci untuk memastikan volume penerbangan yang tinggi dan kepadatan terminal tetap terukur, aman, serta nyaman bagi pengguna jasa,” tambah Iwan.
Sumber: kompas.com| Editor: Redaksi

