Site icon KLAUSAMEDIA

BRIN Rancang Tol Laut yang Hubungkan IKN dengan Sulawesi

TOL LAUT-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan merancang Tol Laut yang menghubungkan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan Pulau Sulawesi.

KLAUSAMEDIA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan merancang Tol Laut yang menghubungkan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan Pulau Sulawesi.

Tol laut itu nantinya akan menjadi jalur aman di lautan agar kapal-kapal bisa melintas dari IKN ke Sulawesi atau sebaliknya.

Hal itu disampaikan akun Instagram BRIN pada Rabu (23/9/2026).

Dijelaskan BRIN tengah membuat jalan tol kapal di Selat Makassar.

“Pernah bayangin ada “marka jalan” di tengah laut? Itulah yang sedang dirancang oleh para periset BRIN di Selat Makassar!” tulis BRIN.

Saat ini Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH), BRIN masih merancang skema pemisahan jalur pelayaran atau Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Makassar.

Hal ini guna meningkatkan keselamatan navigasi sekaligus menopang pengembangan pelabuhan hub di IKN.

Riset ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kepadatan lalu lintas kapal di Selat Makassar, yang merupakan salah satu jalur pelayaran strategis nasional dan internasional.

Tanpa pengaturan yang sistematis, potensi risiko kecelakaan di kawasan ini dinilai semakin tinggi, terutama seiring dengan pembangunan IKN dan proyeksi aktivitas logistik di masa depan.

Perekayasa Ahli Muda PRTH BRIN, Ibnu Fauzi, menjelaskan bahwa desain TSS yang dikembangkan mengadopsi pendekatan komprehensif dengan mengintegrasikan analisis lalu lintas kapal, kajian risiko kecelakaan, serta data hidro-oseanografi seperti arus, gelombang, dan angin.

“Pengaturan jalur pelayaran yang terstruktur menjadi kunci untuk meminimalkan risiko tabrakan dan meningkatkan keselamatan navigasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis Rabu (22/4/2026).

Hasil penelitian tim BRIN yang terdiri dari Ibnu Fauzi, Danang Ariyanto, Cahyarsi Murtiaji, Catur Indra Sukmana, dan Eny Cholishoh, menunjukkan bahwa skema TSS yang ideal terdiri dari dua jalur terpisah untuk kapal dengan arah berlawanan, masing-masing selebar sekitar tiga kilometer.

Desain ini juga mempertimbangkan berbagai hambatan navigasi seperti pipa bawah laut, anjungan lepas pantai, hingga keberadaan terumbu karang.

Dari sisi kondisi perairan, menurut Fauzi, hasil analisis menunjukkan bahwa Selat Makassar relatif aman untuk pelayaran.

Kecepatan angin tercatat di bawah 15 knot dengan tinggi gelombang maksimum sekitar 1,25 meter masih dalam batas standar keselamatan pelayaran internasional.

Evaluasi statistik juga memperkuat bahwa lebar jalur tiga kilometer efektif dalam menekan potensi kecelakaan kapal.

Rancangan TSS ini menjadi fondasi penting dalam mendukung pengembangan pelabuhan hub IKN sebagai simpul logistik nasional dan internasional.

Dengan sistem lalu lintas kapal yang lebih tertata, diharapkan efisiensi distribusi meningkat sekaligus menjaga keselamatan dan keberlanjutan lingkungan laut.

Meski demikian, Ibnu menegaskan bahwa penelitian ini masih bersifat awal karena menggunakan data sekunder.

Ke depan, diperlukan integrasi data real-time seperti Automatic Identification System (AIS) serta survei hidrografi beresolusi tinggi untuk menyempurnakan desain jalur pelayaran.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Archives of Transport (DOI: 10.61089/aot2025.fwrh7755) ini menegaskan komitmen BRIN dalam menyediakan dasar ilmiah bagi kebijakan strategis nasional.

Dengan pendekatan berbasis sains, Indonesia diharapkan semakin kuat dalam tata kelola maritim global, khususnya dalam menjamin keselamatan pelayaran di jalur strategis dunia seperti Selat Makassar.

Sumber : wartakota.tribunnews.com | Editor : Redaksi