Site icon KLAUSAMEDIA

DKP3 Bontang Laporkan Ikan Mati Massal, Minta Pemprov Cek Perairan

Kepala Bidang Perikanan DKP3 Kota Bontang, Syamsu Wardi

KLAUSAMEDIA, BONTANG – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang telah melaporkan kejadian kematian ratusan ikan di kawasan perairan Tanjung Limau dan Selambai kepada pemerintah provinsi (pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim). DKP3 berharap Pemprov segera turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi perairan sekaligus menganalisis faktor penyebab kematian ikan yang terjadi di sejumlah keramba tersebut.

Kepala Bidang Perikanan DKP3 Kota Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan laporan telah disampaikan sejak 3 November 2026 melalui beberapa saluran komunikasi, mulai dari WhatsApp, panggilan video, hingga aplikasi Cakalang.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke provinsi sejak tanggal 3 November. Karena kewenangan pengawasan perairan berada di provinsi, kami berharap pihak provinsi juga dapat turun langsung ke lapangan untuk melakukan analisis lebih lanjut,” ujarnya, Minggu (8/11/2026).

Syamsu menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan pengelolaan sumber daya laut, perizinan pemanfaatan, serta pengawasan wilayah laut hingga 12 mil laut berada di tangan pemerintah provinsi.

Meski demikian, DKP3 Bontang tetap melakukan pemantauan sebagai bagian dari tugas teknis daerah. Hasil pengamatan tersebut juga menjadi bahan laporan kepada pimpinan sekaligus informasi awal bagi pemerintah provinsi dalam menindaklanjuti kejadian tersebut.

Dari hasil pemantauan sementara, kematian ikan tidak terjadi secara merata di seluruh perairan Bontang. Dampak paling terlihat berada di kawasan Keramba BEM Tanjung Limau dan Selambai, sementara sejumlah lokasi lainnya tidak mengalami kondisi serupa.

DKP3 juga menemukan indikasi rendahnya kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) di lokasi terdampak. Hasil pengukuran di kawasan Selambai menunjukkan kadar oksigen sekitar 2,2 miligram per liter. Sementara di Tanjung Limau, angkanya bervariasi antara 0,2 hingga 6,8 miligram per liter.

Menurut Syamsu, rendahnya kadar oksigen diduga menjadi salah satu faktor yang memicu kematian ikan. Selain itu, tim juga menemukan kadar nitrat di perairan Tanjung Limau mencapai 11,3 miligram per liter.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi keseimbangan lingkungan perairan, termasuk ketersediaan oksigen yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup.

Meski telah melakukan pengamatan dan analisis awal, DKP3 berharap pemerintah provinsi dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi kualitas air serta faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap kematian ikan.

Di tengah kejadian tersebut, Syamsu mengimbau para pembudidaya agar segera memanen ikan yang telah mencapai ukuran pasar. Langkah ini disarankan untuk mengurangi risiko kerugian lebih besar apabila kondisi perairan kembali memburuk.

“Kalau ikannya sudah masuk ukuran pasar, saya sarankan segera dipanen. Karena ini bukan kolam, melainkan laut. Kalau dipindahkan, kondisi lingkungan yang sama bisa saja tetap memengaruhi ikan,” pungkasnya.

Reporter: Yulia.C | Editor : Redaksi