Site icon KLAUSAMEDIA

Ratusan Ikan Mati di Bontang, DKP3 Temukan Kadar Oksigen Laut Rendah

Siara pers Kepala Bidang Perikanan DKP3 Kota Bontang, Syamsu Wardi.

KLAUSAMEDIA ,BONTANG – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang menemukan kadar oksigen terlarut yang rendah di sejumlah titik perairan tempat ratusan ikan ditemukan mati.

Hasil pemantauan menunjukkan kadar oksigen di kawasan keramba Selambai mencapai 2,2 miligram per liter, sementara di Tanjung Limau tercatat berkisar 0,2 hingga 6,8 miligram per liter. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab kematian ikan dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Bidang Perikanan DKP3 Kota Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan kematian ikan terjadi di kawasan Keramba BEM Tanjung Limau dan Selambai. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, fenomena tersebut diduga dipicu faktor lingkungan yang ekstrem, terutama rendahnya kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) di dalam air.

“Kesimpulan kami, kematian ikan di keramba, khususnya Keramba BEM dan Selambai, disebabkan faktor lingkungan yang ekstrem. Secara ilmiah, mengarah pada kondisi perairan yang mengalami kekurangan oksigen,” ujarnya saat menyampaikan keterangan, Minggu (8/11/2026).

Syamsu menjelaskan, tim DKP3 mulai melakukan pemantauan pada 3 November 2026 sekitar pukul 09.00 WITA di kawasan Tanjung Limau. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan pada 4 November di wilayah Selambai.

Dalam proses tersebut, tim menggunakan sejumlah pendekatan, mulai dari pengamatan visual kondisi perairan, pemeriksaan gejala fisik ikan, wawancara dengan pembudidaya, hingga studi literatur dan konsultasi dengan ahli.

Dari hasil pengamatan, kondisi perairan saat itu relatif tenang, tidak sedang mengalami pasang maupun surut. Warna air terlihat cokelat pekat dan sedikit berbusa. Tim juga mencatat adanya hujan deras sehari sebelumnya serta kondisi cuaca panas ekstrem yang turut menjadi faktor dalam analisis.

“Saat turun lapangan kondisi air sedang konda, tidak surut dan tidak pasang. Warna air cokelat pekat dan sedikit berbusa. Kami juga melihat kondisi cuaca sebelumnya, termasuk hujan deras dan panas yang cukup ekstrem,” jelasnya.

Selain kondisi perairan, tim DKP3 juga memeriksa kondisi fisik ikan yang mati. Sejumlah ikan diketahui menunjukkan gejala terengah-engah di permukaan air sebelum akhirnya mati dalam posisi terbalik dengan bagian perut menghadap ke atas.

Syamsu menyebut, penutup insang ikan terlihat terbuka. Namun, dari pemeriksaan terhadap beberapa jenis ikan, tidak ditemukan indikasi lendir berlebihan, jamur, maupun parasit yang mencolok.

Hasil pengukuran kualitas air kemudian menunjukkan adanya kadar oksigen terlarut yang rendah di sejumlah titik. Di kawasan Selambai, kadar oksigen tercatat sekitar 2,2 miligram per liter. Sementara di Tanjung Limau, pengukuran langsung di lapangan menunjukkan angka yang bervariasi, mulai dari 0,2 hingga 6,8 miligram per liter.

Menurut Syamsu, rendahnya oksigen terlarut dapat mengganggu proses pernapasan ikan. Kondisi tersebut sejalan dengan gejala ikan yang terlihat mengap-mengap sebelum ditemukan mati.

“Ketika kadar oksigen di perairan sangat rendah, ikan akan kesulitan mendapatkan oksigen untuk bernapas. Kondisi ini yang kami lihat dari gejala ikan mengap-mengap sebelum akhirnya mati,” katanya.

Nitrat Tinggi Diduga Memengaruhi Keseimbangan Oksigen

Selain rendahnya oksigen terlarut, DKP3 juga menemukan kadar nitrat di perairan Tanjung Limau mencapai 11,3 miligram per liter. Angka tersebut dinilai tinggi dibandingkan nilai normatif sekitar 0,05 miligram per liter yang disebutkan Syamsu.

Ia menjelaskan, kadar nitrat yang tinggi berpotensi meningkatkan kesuburan perairan dan mendorong pertumbuhan fitoplankton. Dalam kondisi tertentu, aktivitas organisme tersebut dapat memengaruhi keseimbangan oksigen di dalam air.

Pada siang hari, fitoplankton menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Namun, pada malam hari, proses fotosintesis tidak berlangsung, sementara fitoplankton tetap melakukan respirasi atau menggunakan oksigen.

Akibatnya, kebutuhan oksigen organisme di perairan tetap berlangsung ketika tidak ada tambahan oksigen dari proses fotosintesis. Kondisi ini dapat meningkatkan persaingan penggunaan oksigen dengan ikan, terutama menjelang subuh.

“Fitoplankton membutuhkan oksigen, terutama pada malam hari. Ketika tidak ada fotosintesis yang menghasilkan suplai oksigen, terjadi persaingan antara fitoplankton dengan ikan. Kondisi paling rentan biasanya menjelang subuh,” terangnya.

Syamsu menambahkan, kondisi perairan yang tenang juga berpotensi memperburuk situasi karena sirkulasi dan pengadukan air tidak berlangsung optimal.

Untuk memperkuat analisis, tim DKP3 turut melakukan uji pemberian tambahan oksigen menggunakan alat aerasi terhadap ikan yang masih hidup tetapi menunjukkan gejala kekurangan oksigen.

Setelah diberikan tambahan oksigen selama sekitar 20 menit, ikan yang sebelumnya mengap-mengap menunjukkan respons positif dan kembali berenang.

“Ketika kami coba memberikan tambahan oksigen menggunakan alkon, ikan yang masih mengap-mengap menunjukkan respons positif. Mereka kembali berenang. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa ikan mengalami kekurangan oksigen,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, Syamsu menyarankan para pembudidaya untuk segera memanen ikan yang telah mencapai ukuran pasar. Langkah ini dinilai dapat mengurangi risiko kerugian yang lebih besar apabila kondisi perairan kembali memburuk.

“Kalau ikannya sudah masuk ukuran pasar, saya sarankan segera dipanen. Karena ini bukan kolam, melainkan laut. Kalau dipindahkan, kondisi lingkungan yang sama bisa saja tetap memengaruhi ikan,” pungkasnya.

Reporter: Yulia.C | Editor : Redaksi