Sosialisasi Pelajar Penting di SMA 8 Samarinda, Disdikbud Kaltim Ingatkan Siswa Bahayanya Stunting

KLAUSANEWS, Samarinda – Salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) dalam menekan angka stunting di Indonesia khususnya di Benua Etam, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim menyasar para siswa di jenjang SMA/SMK sederajat.

Dimana sosialisasi Program Pelajar Peduli Stunting (Penting), terus dilaksanakan ke sekolah-sekolah di Kaltim, yang mana pada hari Senin (10/10) lalu, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMA Disdikbud Kaltim, Mispoyo, bertandang ke SMA 8 Samarinda, untuk memberikan penyuluhan kepada siswa-siswi disana.

“Sosialisasi Pelajar Penting ini, baru ada di Kaltim. Bisa dikatakan, Kaltim jadi provinsi pertama yang menggelarnya. Harapan kami, ini bisa menjadi percontohan untuk daerah lain,” tukas Mispoyo.

Guru BK sekaligus Pembina PIK-R di SMA 8 Samarinda, Endang Fitri Ningsih juga menyetujui bahwa sosialisasi tersebut sangat penting. Sebab ketidakpahaman seorang remaja terkait stunting kemungkinan besar masih ada.

“Maka dari itu, diharapkan mereka tidak nikah muda. Karena, dikhawatirkan anak yang dilahirkan bisa stunting. Makanya sejak dini mereka diberikan pemahaman akan itu,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Dimana menurut Endang, untuk seseorang jika ingin menikah harus benar-benar dipastikan siap secara mental maupun fisik. Termasuk dari segi pengetahuannya dan usia. Bahkan menurut BKKBN, usia ideal seseorang untuk menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Stunting kan bisa jadi karena kurang gizi. Sementara, remaja banyak yang anemia atau kurang darah. Maka dari itu, mereka juga diberi pengertian minum obat penambah darah. Biasanya dari puskesmas diberikan, SMA 8 juga memberikan,” lanjutnya.

Endang menyampaikan, bahwa di SMA 8 Samarinda, ada ekstrakurikuler bernama Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R). Yang mana disana sekaligus menjadi wadah untuk para siswa memahami perihal stunting.

Ditanya mengenai apakah ada program jangka panjang dari sekolah untuk penanganan stunting, Endang menyebut, pihaknya akan terus berupaya memberikan pemahaman kepada para siswa. Sebab datangnya stunting dipastikan tidak secara tiba-tiba.

“Dari awal sedini mungkin, dari remaja, kita arahkan tidak anemia, haidnya lancar, dan menikahnya harus cukup umur. Jangan sampai menikah muda. Karena, dikhawatirkan akan melahirkan bayi stunting,” ungkap Endang.

Di PIK-R, para siswa yang tergabung juga diberikan pelatihan dan pemahaman. Apalagi, Endang menyadari bahwa para remaja ini merupakan generasi penerus yang harus disiapkan secara baik. (*)

Editor : APL

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply