KLAUSAMEDIA, BONTANG – Komisi A DPRD Kota Bontang menilai pemerintah perlu memiliki basis data yang lebih akurat mengenai jumlah anak dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD). Hal itu mengemuka saat rombongan dewan melakukan kunjungan ke Pusat Layanan Autis (PLA) atau Autis Center Bontang, Selasa (19/5/2026).
Sekretaris Komisi A DPRD Bontang, Saeful Rizal, mengatakan pendataan yang komprehensif menjadi langkah awal untuk menyusun kebijakan yang tepat dalam pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, tanpa data yang valid, pemerintah akan kesulitan menentukan kebutuhan riil masyarakat, baik di sektor pendidikan, kesehatan, maupun layanan sosial.
“Pendataan harus dilakukan secara serius agar pemerintah memili gambaran yang jelas mengenai kondisi anak-anak autisme di Bontang. Dengan begitu, program penanganan yang disusun dapat lebih tepat sasaran,” ujar Saeful.
Ia mengungkapkan, fenomena meningkatnya kasus autisme di masyarakat perlu menjadi perhatian bersama. Karena itu, Saeful mendorong adanya penelitian atau kajian ilmiah yang dapat memberikan gambaran mengenai berbagai faktor yang diduga berkaitan dengan peningkatan jumlah penyandang autisme di daerah.
Selain memperkuat pendataan, ia juga menekankan pentingnya intervensi sejak usia dini. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan lebih awal akan membantu mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga perlu terus digencarkan agar anak penyandang autisme tidak lagi menghadapi stigma maupun diskriminasi di lingkungan sosial.
“Anak-anak dengan autisme memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, layanan yang layak, dan kesempatan berkembang seperti anak-anak lainnya,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, Saparuddin, menyampaikan hingga saat ini terdapat 19 anak yang aktif mengikuti layanan terapi di Autis Center Bontang. Seluruh peserta memperoleh pendampingan secara berkala sesuai jadwal yang telah ditetapkan bersama para terapis.
“Hingga sekarang ada 19 peserta yang rutin menjalani terapi dan pendampingan sesuai jadwal masing-masing,” jelas Saparuddin.
Ia menambahkan, Disdikbud menyambut baik apabila terdapat penelitian lebih lanjut mengenai kondisi autisme di Kota Bontang. Meski demikian, kajian mengenai penyebab atau faktor yang memengaruhi munculnya autisme bukan merupakan kewenangan instansinya, melainkan berada pada ranah penelitian dan lembaga terkait.
Versi ini lebih menyerupai berita media profesional dengan alur yang berbeda sehingga tidak tampak sebagai hasil penyalinan langsung, namun seluruh fakta utama tetap terjaga. (*)
Editor : Redaksi




