KLAUSAMEDIA.COM, BONTANG – Ketergantungan masyarakat Kota Bontang terhadap tabung gas LPG 3 kilogram diproyeksikan bakal berkurang signifikan seiring dengan masuknya program penambahan sekitar 11.500 sambungan jaringan gas (jargas) rumah tangga yang difasilitasi paket kompor gratis.
Ketua Komisi B DPRD Kota Bontang, Rustam, optimistis bahwa ekspansi infrastruktur gas bumi ke pemukiman warga ini menjadi angin segar untuk menekan potensi kelangkaan gas melon yang kerap berulang tiap tahunnya.
“Kalau program ini berjalan maksimal, kelangkaan gas melon bisa kita minimalisir. Sudah ada tambahan sekitar 11.500 sambungan beserta kompornya, sehingga kebutuhan LPG subsidi akan berkurang,” kata Rustam.
Peralihan konsumsi ini turut memicu penyesuaian regulasi dari pusat. Rustam menguraikan bahwa pihak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah menyurat terkait proyeksi rasionalisasi kuota tabung LPG 3 kg untuk area Bontang.
Kendati demikian, penurunan kuota subsidi tersebut diminta tidak memicu kendornya sistem pemantauan di tingkat pangkalan maupun pengecer. Rustam menekankan pentingnya proteksi bagi kelompok rentan serta pelaku usaha mikro—seperti pedagang bakso dan gerobak keliling—yang memerlukan portabilitas tabung gas untuk mencari nafkah.
Di sisi lain, rumah tangga yang kawasannya telah teraliri jaringan pipa jargas diimbau secara sadar untuk memutus penggunaan tabung melon agar alokasi subsidi tidak salah sasaran.
“Masyarakat harus memahami peruntukannya. LPG nonsubsidi bisa dibeli siapa saja, sedangkan gas melon merupakan barang bersubsidi yang penggunaannya harus tepat sasaran,” tegas Rustam.
Ambisi Kota Bontang menuju predikat Kota Gas diharapkan linier dengan pembenahan tata kelola logistik energi daerah, sehingga penyaluran barang bersubsidi benar-benar tepat sasaran. (*)
Editor : Redaksi




