KLAUSANEWS – Studi South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II), mencatat prevalensi anak stunted atau berperawakan pendek hingga obesitas masih tinggi.
Para peneliti menemukan prevalensi kasus stunted pada anak-anak di wilayah Jawa dan Sumatera mencapai 28,4 persen. Artinya, satu di antara 3,5 anak di wilayah tersebut memiliki perawakan pendek.
“Kita lihat status gizi anak yang (umurnya) kurang dari 5 tahun (daerah Jawa dan Sumatera), ternyata masih tetap tinggi prevalensi stunted-nya,” ujar peneliti SEANUTS II Indonesia, Dr dr Dian Novita Chandra, M.Gizi, dalam Media Launch SEANUTS II yang digelar di Jakarta, Selasa (21/6/2022).
“Jadi memang untuk stunted masih tinggi di atas 20 persen, dan laki-laki lebih tinggi (angkanya) dari perempuan,” sambungnya.
Jika dilihat berdasarkan area tempat tinggal, kata dia, angka anak yang pendek di pedesaan lebih tinggi dibanding di perkotaan.
Selain masalah perawakan pendek, tim peneliti juga menyoroti kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak.
Hampir 15 persen anak usia 7 sampai 12 tahun dilaporkan mengalami kelebihan berat badan serta obesitas. Angka ini lebih tinggi dibandingkan anak berusia di bawah 5 tahun yang prevalensinya sekitar 2 persen.
Kemudian, ditemukan pula sebanyak 19,5 persen anak usia 6 bulan sampai 12 tahun mengalami
Tim peneliti berkata,studi SEANUTS II memberikan gambaran bahwa permasalahan anak berperawakan pendek dan anemia, menjadi permasalahan kesehatan terutama pada anak-anak yang berusia lebih muda.
Namun, pada anak yang berusia lebih tua prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas lebih tinggi dibandingkan stunted.
Kurangnya asupan nutrisi harian pada anak
Salah satu faktor yang menyebabkan kondisi tersebut ialah karena masih belum terpenuhinya asupan nutrisi seperti vitamin dan mineral, yang direkomendasikan untuk tumbuh kembang anak.
Setidaknya, dari total 306 anak (15 persen dari keseluruhan subjek) usia 6 bulan hingga 12 tahun yang dianalisis, 21,4 persen di antaranya mengalami defisiensi zat besi. Lalu, defisiensi seng sebesar 15, 4 persen, dan defisiensi vitamin A berat hingga 4,8 persen.
Sebanyak 1,7 persen anak juga tercatat mengalami defisiensi vitamin A ringan, serta 1 persen di antaranya defisiensi vitamin D.
“Defisiensi zat besi masih menjadi masalah, anemia, dan (asupan) seng masih menjadi masalah,” tutur Dian.
Temuan lain juga menunjukkan, aktivitas fisik harian anak usia sekolah belum mencapai tingkat kecukupan sedang yang direkomendasikan.
Padahal, tingkat kecukupan aktivitas fisik anak akan memengaruhi kebugaran jasmani yang tentunya meningkatkan kesehatan mereka.
“Tingkat aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak-anak usia 7 sampai 9 berdasarkan jenis kelamin ternyata masih berada pada tingkatan yang rendah sampai sedang,” ungkap peneliti SEANUTS II Indonesia, Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, K-APK.
“Walaupun anak Indonesia usia sekolah aktif, ternyata masih belum memenuhi pemenuhan jumlah aktivitas fisik sesuai rekomendasi,” lanjutnya.
Sebagai informasi, SEANUTS II adalah studi lanjutan dari SEANUTS I yang telah dipublikasikan pada tahun 2013 lalu.
Studi tersebut dilakukan para peneliti pada 2019 dan 2021, yang melibatkan beberapa negara termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, serta Vietnam.
Studi dilakukan di 21 kabupaten/kota, 15 provinsi dan melibatkan sekitar 25 tenaga dokter, ahli gizi, ahli kesehatan, dan ahli olahraga. SEANUTS II juga melibatkan 3.000 anak dengan rentang usia 6 bulan hingga 12 tahun.
“Studi ini menunjukkan bahwa permasalahan stuneds atau perawakan pendek ,anemia, asupan makanan, aktivitas fisik anak dan kebugaran jasmani terkait kesehatan, perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak,” terang Prof. Dr dr Rini Sekartini, SpA(K), selaku peneliti utama SEANUTS II.
Dirinya berharap, data temuan yang dihasilkan SEANUTS II dapat menjadi acuan bagi tenaga medis, pemerintah, dan orangtua guna menanggulangi masalah malnutrisi di Indonesia. (Kompas)
Editor : Redkasi




