KLAUSANEWS, Samarinda – Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur berupaya melakukan penurunan angka stunting (kekerdilan) di Benua Etam.
Pasalnya saat ini, angka prevalensi stunting di Kaltim sebesar 22,8 persen dan ini masih dibawah rata-rata nasional yaitu sekitar 24,4 persen. Akan tetapi, angka tersebut masih diambang batas atau diatas standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yaitu 20 persen.
Mispoyo yang merupakan Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikbud Kaltim pun telah menginisiasi sebuah program bernama Pelajar Peduli Stunting, atau disingkat menjadi ‘Pelajar Penting’. Nantinya, program ini akan dikampanyekan di semua sekolah yang ada di Kaltim.
Mengkampanyekan stunting ini wajib dan sangat penting. Salah satunya, yang harus mengetahui dan memahaminya adalah mereka para pelajar. “Angka stunting di Indonesia itu 24,4 persen. Artinya, ketika ada 100 anak yang lahir, maka 24 anak itu masuk kategori stunting,” ucapnya, Minggu (2/10/2022).
“Itu sangat mengerikan, di Kaltim ada 22,8 persen. Artinya kalau ada 100 anak di Kaltim, berarti 22 diantaranya itu adalah anak yang terkena stunting,” jelas Mispoyo, saat ditemui awak media di SMA ISLAM Samarinda Jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor 2, Kota Samarinda.
Mispoyo pun menargetkan para pelajar sebagai sasaran utama atau sasaran awal pencegahan stunting di Kaltim. Sebab, para pelajar ini merupakan calon pengantin (catin) yang harus dibekali dengan berbagai macam pengetahuan tentang stunting.
“Selama ini proses pencegahan itu hanya di hilirnya, yaitu para balita, ibu-ibu menyusui dan ibu hamil. Namun, itu tugasnya ada di Dinas Kesehatan,” bebernya.
Sementara dari hulunya lanjut Mispoyo belum pernah disentuh. “Mungkin sudah pernah disentuh, tapi belum maksimal. Nah dari hulu inilah pelajar-pelajar harus dibekali dengan ilmu stunting,” paparnya.
Apabila para pelajar dibekali ilmu stunting, mereka akan mengetahui betapa pentingnya menambah darah dan lainnya. “Ciri-ciri stunting itu akibat dia menikah karena kekurangan hemoglobin, sehingga nanti mengakibatkan bayinya akan stunting. Nah ilmu seperti itu harus diketahui para pelajar,” tegasnya.
Atas semua dasar itu, Mispoyo membuat sebuah program Pelajar Penting (Peduli Stunting). “Pelajar juga penting mengetahui ilmu stunting, makanya kita bentuk pelajar peduli stunting. Ini salah satu cara kami menurunkan angka stunting di Kaltim, dimulai dari para pelajar,” tuturnya.(ADV/DISDIKBUDKALTIM)
Reporter : Lidia
Editor : APL




