KLAUSANEWS, Bontang – Puskesmas Bontang Selatan II memulai program pencegahan stunting bagi ibu hamil melalui edukasi sejak awal kehamilan. Langkah ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka stunting dengan memberikan informasi nutrisi yang tepat selama masa kehamilan, yang berpotensi mencegah hambatan pertumbuhan janin.
Petugas Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Mega mengatakan puskesmas melaksanakan beberapa program sejak usia remaja dengan edukasi dan pemberian kelas sebagai langkah awal pencegahan stunting. Fokus utama adalah memberikan pemahaman kepada remaja, calon pengantin, ibu hamil, dan setelah melahirkan agar mereka dapat memberikan nutrisi yang tepat untuk bayi.
“Kesehatan ibu itu kegiatannya banyak, mulai dari sebelum menikah. Pemeriksaan calon pengantin, pelayanan kesehatan reproduksi calon pengantin, penyuluhan kesehatan reproduksi bekerja sama dengan KUA (Kemenag), serta pemantauan pasangan usia subur. Dalam lingkup Keluarga Berencana (KB), kami juga melakukan pemantauan,” jelasnya kepada KLAUSANEWS, Senin (30/9/2024).
Mega juga menambahkan bahwa pendampingan dilakukan sejak ibu terdeteksi hamil hingga 42 hari pasca melahirkan. “Proses ini dipantau oleh bidan bekerja sama dengan kader di setiap RT. Kami juga menyediakan kelas ibu hamil untuk saling bertukar informasi seputar kehamilan, persalinan, nifas, dan perawatan bayi baru lahir. Setelah bersalin, kami bekerja sama dengan program gizi dan imunisasi, serta memberikan pendampingan untuk ibu nifas hingga program KB setelah 42 hari melahirkan,” tambahnya.
Mega juga menjelaskan adanya program kunjungan rumah bagi ibu hamil yang tidak datang ke puskesmas saat Antenatal Care (ANC) atau tidak merespon panggilan telepon.
Sementara, petugas Program Gizi, Puskesmas Bontang Selatan II, Novi menambahkan bahwa tim gizi berperan sebagai konsultan yang mendeteksi ibu hamil yang mengalami masalah gizi, termasuk mereka yang masuk kategori Kurang Energi Kronis (KEK).
“Dipantau minimal sebulan sekali dan diberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama empat bulan,” katanya.
Namun, diakui Novi tantangan masih muncul karena ada ibu hamil yang tidak rutin menjalani ANC, yang dapat mempengaruhi status gizi mereka. “Beberapa kasus terjadi karena ibu tidak rajin melakukan ANC. Misalnya, ada ibu yang baru memeriksakan kehamilan saat usia kandungannya sudah delapan bulan, padahal PMT diberikan selama empat bulan,” jelas Novi.
Kendala ini membuat puskesmas harus melakukan kunjungan rumah untuk memastikan kesehatan ibu hamil dan janin tetap terpantau dengan baik.
“Hal-hal seperti ini menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, kami melakukan kunjungan rumah bersama bidan, petugas kesehatan, dan kader masyarakat untuk memantau kondisi ibu hamil,” pungkasnya.(*)
Reporter: Masyrifah
Editor: Aisyah




