KLAUSANEWS, Bontang – Tingkat prevalensi stunting di Kota Bontang kembali meningkat pada Agustus 2024, mencapai 20,6 persen. Angka ini naik dari 18 persen pada Juli 2024.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang mengidentifikasi rendahnya partisipasi masyarakat dalam program pemantauan di Posyandu sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan lonjakan kasus stunting di Bontang
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Bontang, Bambang Sri Mulyono, menyampaikan bahwa hanya 59,6 persen balita yang mengikuti pemeriksaan rutin di Posyandu. Dari total 16.226 balita di Bontang, hanya 7.055 balita yang terpantau melalui program tersebut.
Padahal, lanjutnya, pemantauan rutin di Posyandu dinilai sangat penting untuk mendeteksi dini gejala stunting, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.
“Rendahnya partisipasi ini sangat memengaruhi upaya kami dalam mencegah dan menurunkan angka stunting,” ungkapnya pada Kamis (3/10/2024).
Dikatakan Bambang, Pemkot Bontang telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemantauan rutin di Posyandu. Namun, masih banyak orang tua yang merasa anak mereka sehat, sehingga enggan membawa anak ke Posyandu. Hal ini berdampak pada rendahnya jumlah balita yang menjalani pemeriksaan rutin.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes Bontang berencana meningkatkan peran ketua RT dalam mendorong masyarakat agar lebih aktif mengikuti program pemantauan kesehatan balita. Ia pun berharap agar prevalensi stunting di Kota Bontang dapat ditekan jelang akhir tahun ini.
“Dengan adanya penggerakan dari ketua RT, diharapkan partisipasi masyarakat akan meningkat,” ujar Bambang.(Adv)
Reporter: Ifah
Editor: Aisyah




