KLAUSANEWS, Bontang – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Bambang Cipto Mulyono, menekankan pentingnya kolaborasi antara semua elemen sekolah dalam mendukung pendidikan inklusi.
Disebutkan Bambang, terdapat 12 sekolah inklusi yang tercacat di Kota Bontang. Sekolah inklusi ini diharapkan tidak hanya mengandalkan peran guru, tetapi juga melibatkan siswa, staf, dan orang tua. Semua pihak berperan aktif dalam menciptakan suasana belajar yang inklusif dan mendukung bagi setiap peserta didik.
Ia menjelaskan bahwa siswa perlu belajar untuk menerima perbedaan di antara mereka, agar lingkungan belajar menjadi lebih ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
“Sekolah inklusi ini bukan hanya dari murid-muridnya saja yang menerima adanya perbedaan pada temannya, tetapi juga mencakup seluruh warga sekolah,” ungkap Bambang.
Ia menekankan bahwa peran orang tua sangat vital, karena orang tua tidak hanya memberikan dukungan di rumah, tetapi juga membantu anak-anak memahami keberagaman yang ada di sekolah.
Dengan sinergi yang baik antara siswa, staf, dan orang tua, pendidikan inklusi di Bontang diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Bambang menambahkan bahwa sekolah inklusi, baik negeri maupun swasta, telah berhasil menciptakan suasana belajar yang mendukung semua peserta didik.
“Ada 12 sekolah inklusi di Bontang, termasuk Muhammadiyah 1, yang sudah mencakup TK, SMP, dan SMA/SMK,” jelasnya.
Bambang berharap, dengan adanya kolaborasi ini, pendidikan inklusi di Bontang dapat menciptakan generasi yang lebih inklusif dan saling menghargai perbedaan.(*)
Reporter: Masyrifah
Editor: Aisyah




