Bontang jadi Pilot Project Wolbachia, Upaya Menekan Angka Kasus DBD

KLAUSANEWS, Bontang – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan serius di beberapa Kelurahan di Kota Bontang. Selama pandemi, jumlah penderita DBD dilaporkan saat ini berjumlah 346 kasus dan 3 diantaranya meninggal dunia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya pengendalian pandemi COVID-19.

Wali Kota Bontang, Basri Rase, melalui Dinas Kesehatan Kota Bontang mengambil langkah cepat dan tanggap dengan rencana penelitian terkait pengendalian virus dengue dengan menggunakan nyamuk aedes aegypti yang telah ber bakteri Wolbachia, Guna menekan ancaman penyebaran dan penularan DBD yang kian tinggi.

“ Karena bukan hanya Fogging yang menjadi solusi dalam penanggulangan DBD. Selain hal tersebut kegiatan inovasi dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat DBD adalah kegiatan Wolbachia “ ucapnya saat memberikan sambutan di Rujab Bontang. Kamis (18/08/2022).

Basri Rase juga mengungkapkan rasa syukurnya karena Bontang masuk dalam salah satu dari 5 kota yang menjadi pilot project untuk kegiatan Implementasi Bakteri Wolbachia yang disupport oleh Kementerian Kesehatan.

“ Alhamdulillah saat ini Kota Bontang terpilih sebagai Pilot Project Implementasi Bakteri Wolbachia oleh kementerian kesehatan bersama empat kota lain, yaitu Jakarta Barat, Bandung, Semarang, dan Kupang. Saya juga sangat mengapresiasi untuk Kementerian Kesehatan karena sudah memilih Kota Bontang dan diharapkan agar Kota Bontang bija jadi Percontohan dari Kabupaten atau kota lainnya di Indonesia khususnya Kalimantan Timur, untuk itu diharapkan agar dapat bersama mendukung program inovasi Wolbachia tersebut, “ katanya.

Lebih lanjut, Basri Rase juga menuturkan bahwa Inovasi pengendalian DBD menggunakan Bakteri Wolbachia sudah berhasil diterapkan di Kota Yogyakarta.

“ Sudah diterapkan di Yogyakarta dan sudah berhasil menurunkan kejadian DBD sebesar 77%, menurunkan hospitalisasi 86% dan penurunan kegiatan fogging sebesar 87% ,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang , drg Toetoek Pribadi Ekowati turut memberi keterangan mengenai strategi wolbachia ini.

“ Ada strategi baru namanya Wolbachia, nantinya akan dimasukkan genus bakteri ke nyamuk Aedes Aegypti, dengan cara disuntik, Kalau ada nyamuk Aedes Aegypti yang ber wolbachia, ada kumannya tadi, maka si nyamuk akan menjadi mandul, atau tidak bisa menetas,” ujarnya saat menanggapi pertanyaan dari salah satu audiensi.

drg Toetoek menyebutkan, nyamuk yang telah ber wolbachia tidak akan bisa membawa virus dengue, penyebab demam berdarah.

“ Jadi semisal nyamuk itu kawin ya, nyamuk yang ber wolbachia jantan, kemudian kawin dengan nyamuk Aedes Aegypti perempuan lokal, kemudian dia nanti akan kawin, nanti anak si nyamuk sudah ber wolbachia, kalau sudah ber wolbachia, nanti dia sudah tidak bisa mengeluarkan virus dengue, artinya dia mandul,” katanya.

Lebih lanjut, drg Toetoek juga menegaskan bahwa inovasi penanggulangan DBD menggunakan metode Wolbachia ini aman untuk masyarakat, sehingga tidak perlu ada rasa khawatir yang berlebih.

“Jadi aman untuk manusia, aman untuk si nyamuk karena dia tidak bisa bermutasi ya termasuk ke lingkungan juga aman. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, kok itu kenapa menyebar nyamuk gitu, nah itu dalam rangka supaya dia kawin dengan nyamuk ber wolbachia yang nanti akan menimbulkan mandul,” tegasnya.

Teknologi Wolbachia adalah sebuah inovasi baru pengendalian nyamuk dengan melumpuhkan virus dengue secara alami di dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti, sehingga nyamuk baru tidak berkembang menjadi nyamuk penyebab DBD.

Reporter : Octa Fadillah
Editor : APL

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply